Megawati Bersama GKR Hemas Buka Pameran Mata Hati Soekarno

Megawati Bersama GKR Hemas Buka Pameran Mata Hati Soekarno

Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus putri proklamator, Megawati Soekarnoputri, bersama Permaisuri Kasultanan Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, secara resmi membuka pameran seni rupa bertajuk "Mata Hati Soekarno" yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kehadiran dua tokoh perempuan berpengaruh ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap warisan sejarah bangsa, tetapi juga menegaskan kembali eratnya hubungan historis dan kultural antara keluarga Bung Karno dengan Yogyakarta, kota yang pernah menjadi ibu kota perjuangan Republik Indonesia. Pameran yang menampilkan puluhan karya dari para seniman lintas generasi ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan Hari Lahir ke-125 Bung Karno, sebuah momentum emas untuk merefleksikan kembali pemikiran-pemikiran besar sang Proklamator melalui medium estetika seni rupa.

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan bahwa proses kurasi pameran ini diawali dengan sebuah tantangan besar yang diberikan oleh panitia kepada para perupa. Para seniman ditantang untuk menggali lebih dalam, menemukan, memilih sudut pandang, cara pandang, dan cara ungkap yang personal serta kontekstual dalam melihat, memahami, meresepsi sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia, yakni Bung Karno. Menurut Suwarno, Bung Karno bukan sekadar tokoh sejarah yang statis dalam buku-buku pelajaran, melainkan sebuah ruang gagasan yang dinamis dan selalu relevan untuk didekonstruksi serta direkonstruksi melalui karya seni. Tantangan ini menuntut para seniman untuk tidak terjebak pada visualisasi potret fisik Bung Karno yang klise, melainkan merambah ke wilayah pemikiran, kegelisahan, visi geopolitik, hingga sisi humanis sang pemimpin.

Mengolah dan mewujudkan tema "Mata Hati Soekarno" sesungguhnya bukanlah perkara yang mudah. Suwarno mengungkapkan bahwa kesulitan ini muncul karena sebagian besar perupa, seniman, atau pelukis yang berpartisipasi dalam pameran ini berasal dari generasi 1990-an. Generasi ini adalah mereka yang lahir dan tumbuh besar puluhan tahun setelah Bung Karno wafat pada tahun 1970. Mereka tidak pernah mengalami langsung atmosfer kepemimpinan Bung Karno, tidak pernah mendengar langsung pidatonya yang menggelegar membakar semangat massa, dan hanya mengenal sang Proklamator melalui narasi sejarah sekunder, literatur, film dokumenter, atau cerita-cerita dari generasi pendahulu. Jarak temporal yang cukup jauh ini menjadi tantangan kreatif tersendiri bagi para seniman muda untuk membangun kedekatan emosional dan intelektual dengan subjek karya mereka.

Namun, keterbatasan jarak waktu tersebut justru melahirkan interpretasi yang segar, jujur, dan tidak konvensional. Melalui berbagai medium seperti lukisan, karya grafis, patung, instalasi, dan gambar (drawing), para seniman muda ini berupaya keras membaca kembali perjalanan hidup, gagasan besar, serta jejak kebangsaan yang diwariskan Bung Karno kepada bangsa Indonesia. Sebagian seniman memilih untuk menyoroti konsep Marhaenisme, sebagian lagi memvisualisasikan gagasan Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan), sementara yang lain lebih tertarik mengeksplorasi diplomasi kebudayaan internasional yang pernah dijalankan Bung Karno di panggung dunia, seperti Konferensi Asia Afrika 1955.

Menurut analisis Suwarno Wisetrotomo, Bung Karno merupakan figur multidimensional yang tidak pernah habis untuk dibaca, dikaji, dan dimaknai ulang dari waktu ke waktu. Setiap generasi memiliki hak dan caranya sendiri untuk menafsirkan kontribusi serta pemikiran Bung Karno sesuai dengan tantangan zaman yang mereka hadapi. "Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api yang menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan dari waktu ke waktu sampai hari ini. Lebih dari setengah abad sepeninggal Bung Karno, ia tetap menjadi inspirasi yang tak pernah redup," ujar akademisi dan kritikus seni terkemuka dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut. Metafora empat elemen alam ini menggambarkan betapa pemikiran Bung Karno telah menyatu dengan DNA kebudayaan dan politik bangsa Indonesia.

Karena itu, pameran "Mata Hati Soekarno" ini dirancang tidak sekadar untuk menghadirkan deretan karya seni rupa yang estetis di ruang galeri, tetapi juga untuk membuka ruang dialog publik yang luas mengenai relevansi pemikiran dan nilai-nilai yang diwariskan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut di era modern. Di tengah gempuran arus globalisasi, digitalisasi, dan polarisasi sosial, pemikiran Bung Karno tentang persatuan nasional, kemandirian bangsa, dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal dirasa semakin mendesak untuk didiskusikan kembali. Pameran ini berfungsi sebagai jembatan kultural yang mempertemukan memori kolektif masa lalu dengan kesadaran kritis generasi masa kini.

Pilihan untuk merayakan dan mengenang Bung Karno melalui medium seni lukis dan seni rupa pada umumnya dinilai sebagai sebuah langkah yang sangat tepat dan tidak terjadi secara kebetulan. Sejarah mencatat bahwa Bung Karno adalah seorang pencinta seni sejati, kolektor karya seni rupa terbesar di masanya, dan seorang kurator ulung yang memahami betul kekuatan bahasa visual. "Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan. Ini perayaan yang tepat, karena teman-teman di berbagai belahan negara mengenal Indonesia, mengenal Bung Karno dari dekat, salah satunya adalah dari lima jilid buku koleksi seni lukis dan patung yang diinisiasi beliau, yang diterbitkan dan belum pernah ada tandingannya sampai hari ini," papar Suwarno dengan penuh antusiasme. Buku legendaris setebal lima jilid yang mendokumentasikan ribuan karya seni koleksi Bung Karno tersebut hingga kini masih menjadi rujukan utama sejarah seni rupa modern Indonesia di tingkat global. Bagi Bung Karno, seni lukis bukan sekadar dekorasi dinding, melainkan instrumen diplomasi kebudayaan dan simbol martabat sebuah bangsa merdeka.

Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan pameran ini karena kota ini memiliki kedekatan historis yang sangat mendalam dengan Bung Karno. Pada masa-masa kritis revolusi fisik, Yogyakarta pernah menyambut Bung Karno dan jajaran pemerintahan RI ketika ibu kota Jakarta dikuasai oleh tentara Sekutu dan NICA. Di kota budaya inilah Bung Karno memimpin jalannya pemerintahan dari Gedung Agung, berkolaborasi erat dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Selain itu, Yogyakarta dikenal sebagai rahim dari seni rupa modern Indonesia, tempat di mana sanggar-sanggar seni pejuang tumbuh subur di bawah restu langsung dari Bung Karno pada dekade 1940-an hingga 1950-an.

Pameran "Mata Hati Soekarno" ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno yang digelar secara kolaboratif di Yogyakarta. Pembukaan pameran oleh Megawati Soekarnoputri dan GKR Hemas diiringi dengan prosesi adat dan pertunjukan seni tradisional yang semakin memperkuat nuansa kebangsaan dan kebudayaan. Dalam sambutannya saat meninjau pameran, Megawati menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para seniman muda yang telah mencurahkan energi kreatif mereka untuk menggali pemikiran sang ayah. Megawati berharap pameran ini dapat memantik api semangat nasionalisme di dada generasi muda, sekaligus menginspirasi mereka untuk terus berkarya demi kemajuan peradaban bangsa Indonesia di kancah internasional. Pameran ini diharapkan dapat dikunjungi oleh ribuan pencinta seni, akademisi, pelajar, serta masyarakat umum yang ingin menyelami kedalaman mata hati seorang proklamator lewat goresan kuas dan warna para seniman tanah air.