Wamendiktisaintek Sebut Jakarta Berpeluang Jadi International Talent Hub

Wamendiktisaintek Sebut Jakarta Berpeluang Jadi International Talent Hub

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menilai bahwa Daerah Khusus Jakarta memiliki potensi yang sangat besar untuk bertransformasi menjadi International Talent Hub atau pusat talenta global. Di tengah dinamika geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian dan perubahan cepat, Jakarta justru berada pada posisi strategis untuk menarik para akademisi, peneliti, mahasiswa, serta profesional berbakat dari berbagai belahan dunia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Stella usai menghadiri peresmian Jakarta Urban Knowledge Hub oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Senin, 8 Juni 2026. Menurut Stella, pergeseran peta politik dan ekonomi global saat ini harus disikapi sebagai peluang emas bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem riset dan pendidikan tingginya di kancah internasional.

"Kami juga melihat bahwa sudah tiba saatnya Jakarta ini menjadi bukan saja pusat dari Indonesia, tetapi juga pusat internasional. Kami sudah melakukan beberapa pemetaan, sangat memungkinkan bahwa Jakarta menjadi International Talent Hub," ujar Stella dalam keterangannya kepada media. Pemetaan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menunjukkan bahwa Jakarta memiliki modalitas yang kuat, mulai dari kesiapan infrastruktur digital, konsentrasi perguruan tinggi berkualitas, hingga daya tarik sosial-budaya sebagai kota megapolitan yang dinamis dan inklusif.

Lebih lanjut, Stella menjelaskan bahwa situasi geopolitik global yang tengah mengalami restrukturisasi besar-besaran dapat menjadi katalisator bagi Indonesia. Ketegangan perdagangan, hambatan imigrasi di beberapa negara maju, serta ketidakstabilan politik di berbagai belahan dunia membuat banyak akademisi dan mahasiswa internasional mencari alternatif destinasi baru yang aman, stabil, dan menawarkan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten, Indonesia menawarkan lingkungan yang sangat kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kolaborasi akademik.

"Artinya dengan keadaan geopolitik yang sekarang, walaupun kita melihatnya salah satu sisi adalah sebagai krisis, di sisi lain ini juga kesempatan. Karena Indonesia sekarang bisa menjadi kesempatan di mana para pelaku civitas akademika yang ingin bersekolah, ingin berkuliah di perguruan tinggi, itu bisa datang ke Jakarta," paparnya. Dengan memanfaatkan momentum ini, Jakarta tidak hanya menjadi tujuan studi bagi mahasiswa dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara, tetapi juga mampu menarik minat para peneliti pascadoktoral (postdoctoral researchers) dan profesor kelas dunia untuk melakukan riset kolaboratif di Indonesia.

Untuk mewujudkan visi besar tersebut, kehadiran wadah seperti Jakarta Urban Knowledge Hub dinilai sangat krusial. Fasilitas yang baru saja diresmikan di kawasan Kuningan ini dirancang sebagai episentrum kolaborasi yang mempertemukan para akademisi, praktisi industri, birokrat pemerintah, dan komunitas kreatif. Kuningan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat bisnis dan diplomatik utama di Jakarta, menjadi lokasi yang ideal karena aksesibilitasnya yang tinggi serta kedekatannya dengan berbagai perwakilan negara asing dan korporasi multinasional. Melalui hub ini, berbagai riset mengenai tata kelola perkotaan, teknologi hijau, transportasi publik, hingga digitalisasi layanan dapat diintegrasikan secara langsung dengan kebijakan pembangunan daerah.

Pengembangan Jakarta sebagai International Talent Hub juga didukung oleh teori-teori ekonomi pembangunan modern. Berbagai studi empiris di tingkat global menunjukkan adanya korelasi positif yang sangat kuat antara keberadaan universitas serta pusat riset berkualitas tinggi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Kota-kota global seperti Boston dengan klaster Harvard dan MIT, London dengan jaringan universitas risetnya, atau Singapura dengan National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU), membuktikan bahwa konsentrasi talenta akademik mampu mengakselerasi inovasi industri, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB).

"Data-data menunjukkan di seluruh dunia, kota yang mempunyai universitas dan riset yang berkualitas itu sangat berkorelasi terhadap perekonomian kota tersebut. Jadi kesejahteraan perekonomian di suatu kota ini sangat berhubungan dengan kehadiran riset dan universitas yang tentu saja adalah mengumpulkan talent," jelas Stella, yang juga merupakan seorang profesor dan ilmuwan kognitif terkemuka lulusan Harvard University. Kehadiran talenta-talenta global di Jakarta diproyeksikan akan memberikan dampak pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal, mulai dari sektor properti, jasa, pariwisata, hingga pertumbuhan industri berbasis teknologi tinggi (high-tech industries).

Namun, Stella mengingatkan bahwa transformasi ini tidak akan terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kolaborasi yang erat dan sinergis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Selama ini, terdapat kecenderungan di mana program-program riset dan pengembangan perguruan tinggi berjalan secara sektoral di tingkat kementerian tanpa terintegrasi secara optimal dengan rencana pembangunan jangka menengah dan panjang pemerintah daerah. Oleh karena itu, diperlukan penyelarasan visi agar potensi riset yang ada di perguruan tinggi dapat langsung dimanfaatkan untuk memecahkan permasalahan riil yang dihadapi oleh daerah, khususnya DKI Jakarta.

"Jadi apa yang harus kita lakukan adalah bagaimana bersama dengan pemerintah daerah bahwa segala kegiatan riset dan pendidikan tinggi ini bisa kita lakukan bersama antara pusat dan daerah yang akan menjadikan Jakarta International Talent Hub," tuturnya. Kolaborasi ini akan diwujudkan melalui pembagian peran yang jelas, di mana pemerintah pusat memfasilitasi regulasi, jaringan internasional, dan standardisasi mutu akademis, sementara pemerintah daerah menyediakan dukungan infrastruktur, akses data perkotaan, serta skema insentif bagi para peneliti dan institusi pendidikan.

Saat ini, Kemendiktisaintek tengah merumuskan sejumlah langkah konkret bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung. Beberapa program strategis yang sedang dipersiapkan antara lain adalah penyusunan regulasi yang mempermudah mobilitas akademisi internasional, penyediaan beasiswa riset bersama (joint research grants), serta pengembangan kawasan-kawasan khusus akademik (academic zones) di Jakarta yang ramah bagi ekspatriat dan peneliti. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan bahwa visi Jakarta sebagai pusat talenta internasional bukan sekadar jargon politik, melainkan sebuah rencana kerja terukur yang memiliki dampak nyata.

"Kita ada banyak yang sedang kita kerjakan pada saat ini bersama dengan Bapak Gubernur untuk langkah nyata, jadi bukan hanya sebagai slogan tapi langkah nyata agar ada perubahan paradigma bahwa riset dan pendidikan tinggi itu juga bisa menjadi bagian dari pemerintah daerah bersama dengan pemerintah pusat," pungkas Stella.

Melalui perubahan paradigma ini, riset tidak lagi dipandang sebagai beban anggaran atau sekadar pemenuhan kewajiban administratif akademis, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang bagi pembangunan daerah. Dengan komitmen kuat dari Kemendiktisaintek dan Pemprov DKI Jakarta, ibu kota berpeluang besar untuk mempertahankan daya saing globalnya, bahkan setelah pusat pemerintahan secara bertahap berpindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Jakarta siap melangkah maju, tidak hanya sebagai pusat bisnis dan keuangan nasional, tetapi juga sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dan inovasi di kawasan Asia Tenggara.