2 Pelaku Bully Bocah hingga Koma di Jakpus Diamankan, 1 Ditahan

2 Pelaku Bully Bocah hingga Koma di Jakpus Diamankan, 1 Ditahan

Aparat Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat bergerak cepat mengusut kasus perundungan dan penganiayaan brutal yang menimpa seorang bocah laki-laki berinisial MWP hingga tak sadarkan diri dan sempat mengalami koma. Setelah melakukan penyelidikan intensif dan mengumpulkan sejumlah barang bukti serta keterangan saksi, polisi akhirnya mengamankan dua orang pelaku yang diduga kuat sebagai otak dan eksekutor di balik aksi kekerasan tersebut. Dari dua pelaku yang diamankan, satu orang di antaranya resmi ditahan di markas kepolisian, sementara satu pelaku lainnya menjalani proses hukum dengan penanganan khusus mengingat usianya yang masih di bawah umur. Kasus yang terjadi di salah satu kawasan padat penduduk di Jakarta Pusat ini tidak hanya memicu kemarahan publik, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi keluarga korban, khususnya sang ibu yang harus menyaksikan putranya berjuang antara hidup dan mati di ruang perawatan intensif.

Tragedi memilukan ini menyisakan luka yang teramat dalam bagi Vira Ismayanti (26), ibu kandung MWP. Sore itu berjalan seperti biasa, Vira sedang sibuk membanting tulang demi menyambung hidup dengan bekerja menerima jasa setrika pakaian di rumah tetangganya. Di tengah kepulan uap setrika dan tumpukan baju, konsentrasinya buyar seketika saat seorang tetangga datang dengan napas terengah-engah, membawa kabar buruk bahwa putranya tergeletak tak berdaya di lapangan tempat anak-anak biasa bermain. Tanpa berpikir panjang, Vira langsung melepaskan setrika dari genggamannya, meninggalkan pekerjaannya begitu saja, dan berlari sekencang mungkin menuju lokasi kejadian. Jantungnya berdegup kencang, dibayangi ketakutan terburuk yang bisa menimpa anak laki-laki kesayangannya.

Setibanya di lokasi, runtuhlah dunia Vira ketika melihat tubuh kecil MWP sudah terkapar di tanah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat, dan tubuhnya tidak memberikan respons saat didekap. Rasa panik menjalar ke sekujur tubuh Vira, menjadikannya histeris di tengah kerumunan. Dibantu oleh beberapa kerabat yang iba, MWP langsung digendong dan dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat menggunakan sepeda motor demi mendapatkan pertolongan pertama secepat mungkin. Udara sore Jakarta yang panas terasa mencekam bagi Vira yang terus memeluk erat tubuh anaknya yang terkulai lemas, berharap ada mukjizat yang segera menyadarkan sang buah hati.

Di balik kesedihan yang mendalam, terselip rasa kecewa dan amarah yang luar biasa di hati Vira terhadap lingkungan sekitar tempat kejadian. Hal yang paling membuat Vira jengkel dan sakit hati adalah kenyataan bahwa teman-teman bermain MWP yang berada di lokasi kejadian sama sekali tidak langsung memberikan pertolongan saat penganiayaan terjadi. Mereka hanya terpaku menonton aksi kekerasan tersebut tanpa ada upaya untuk melerai atau segera melapor kepada orang dewasa. Lebih menyakitkan lagi, menurut informasi yang dihimpun Vira dari beberapa saksi mata, terdapat beberapa orang dewasa di sekitar lokasi kejadian yang hanya menyaksikan peristiwa memilukan itu secara pasif tanpa mengambil tindakan tegas untuk menghentikan kebrutalan para pelaku terhadap MWP. Sikap apatis dan hilangnya rasa kepedulian sosial dari lingkungan sekitar ini disesalkan Vira sebagai faktor yang memperparah kondisi putranya.

Upaya penyelamatan MWP dipenuhi dengan ketegangan yang menguras emosi dan air mata. Vira sempat membawa buah hatinya ke rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian dengan harapan penanganan medis darurat bisa segera menyadarkan anaknya. Namun, melihat kondisi MWP yang terus menurun secara drastis dan membutuhkan peralatan medis yang lebih memadai, pihak rumah sakit pertama menyatakan tidak sanggup dan langsung merujuk korban ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat, sebuah rumah sakit rujukan nasional dengan fasilitas penanganan trauma yang lengkap. Kepanikan Vira berada pada titik puncaknya ketika di tengah perjalanan menuju RSCM, MWP sempat mengalami henti napas beberapa saat. Detik-detik mencekam itu dirasakan Vira bagaikan kiamat kecil, di mana ia terus membisikkan doa dan nama anaknya agar bertahan hidup.

Setibanya di instalasi gawat darurat RSCM, tim dokter langsung bergerak cepat melakukan tindakan resusitasi dan memberikan bantuan pernapasan darurat. Dalam kondisi kritis di mana nyawa anaknya berada di ujung tanduk, Vira hanya bisa bersimpuh di koridor rumah sakit, berharap keajaiban dari Tuhan datang untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Dokter spesialis anak dan tim medis intensif bekerja keras selama berjam-jam untuk menstabilkan tanda-vital MWP. Berkat penanganan medis yang cepat dan intensif di ruang resusitasi, kondisi kritis MWP perlahan-lahan berhasil dilewati, meskipun ia belum sepenuhnya sadar dan harus segera dipindahkan ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) atau ICU khusus anak untuk mendapatkan pengawasan ketat selama 24 jam penuh.

Setelah melewati masa-masa kritis yang menegangkan di ruang ICU, perlahan tapi pasti, kondisi fisik MWP mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Kesadarannya berangsur pulih, dan selang-selang medis yang menopang tubuhnya mulai dilepas satu per satu. Saat kondisinya mulai membaik dan ia sudah bisa berkomunikasi secara perlahan, MWP akhirnya mulai membuka suara tentang apa yang sebenarnya dialaminya pada hari nahas tersebut. Kepada sang ibu yang setia menjaganya siang dan malam di sisi tempat tidur rumah sakit, bocah malang itu mengaku bahwa apa yang menimpanya bukanlah sebuah kecelakaan atau jatuh saat bermain, melainkan sebuah tindakan kekerasan yang disengaja. Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, ia mengaku kerap menjadi sasaran empuk kekerasan fisik oleh teman-teman sepermainannya sendiri.

"Besok harinya dia bilang, ‘Mama, aku kemarin habis digebuk sama teman-teman’," ujar Vira menirukan ucapan putranya dengan suara bergetar menahan tangis. Pengakuan polos dari mulut anaknya itu bagaikan petir di siang bolong bagi Vira, menegaskan bahwa putranya telah menjadi korban perundungan fisik yang sangat kejam.

Ketika Vira mencoba menggali lebih dalam mengenai motif di balik tindakan keji tersebut, MWP mengungkapkan fakta lain yang tak kalah mengejutkan. Bocah itu mengaku sering dimintai uang atau dipalak secara paksa oleh teman-temannya yang berusia lebih tua. Praktik pemalakan ini rupanya telah berlangsung cukup lama dan menjadi semacam "syarat" agar MWP bisa diterima di lingkungan sosialnya. Jika permintaan uang tersebut tidak diberi atau MWP tidak membawa uang saku, ia akan menerima sanksi sosial yang kejam dari kelompok tersebut. Ia akan dijauhi secara sepihak, dikucilkan dari pergaulan, dan sama sekali tidak diajak bermain di lapangan.

"Katanya kalau main ke lapangan harus minta uang dulu. Kalau aku enggak dikasih uang, aku enggak ditemenin sama mereka," tutur Vira menirukan pengakuan jujur anaknya yang merasa tertekan secara psikologis selama ini demi bisa memiliki teman bermain.

Lebih lanjut, berdasarkan penuturan MWP kepada ibunya, praktik pemalakan dan intimidasi ini ternyata tidak hanya menyasar dirinya saja. Beberapa anak lain yang sering menghabiskan waktu bermain di kawasan lapangan tersebut juga kerap menjadi korban pemalakan oleh kelompok pelaku yang sama. Anak-anak yang lebih lemah dipaksa menyerahkan uang jajan mereka di bawah ancaman kekerasan fisik maupun pengucilan sosial. Uang hasil rampasan atau pemalakan dari anak-anak tersebut kemudian dikumpulkan oleh para pelaku dan digunakan untuk membeli berbagai macam jajanan, makanan ringan, atau rokok di warung-warung sekitar lapangan.

"Katanya buat jajan-jajan," ujar Vira dengan nada geram, menyesalkan bagaimana uang jajan anak-anak yang disisihkan orang tua mereka dengan susah payah justru dirampas paksa hanya untuk memuaskan keinginan konsumtif para pelaku perundungan.

Kasus perundungan yang berujung pada komanya MWP ini ternyata bukanlah kejadian pertama yang dialami oleh bocah malang tersebut. Vira mengungkapkan bahwa tindakan semena-mena dan perundungan terhadap putranya sudah menunjukkan gejala eskalasi sejak beberapa minggu sebelum kejadian tragis ini. Beberapa minggu sebelumnya, MWP pulang ke rumah tanpa mengenakan alas kaki dengan raut wajah sedih. Setelah ditanya, terungkap bahwa sandal milik MWP sengaja disembunyikan di atas pohon yang tinggi oleh teman-temannya sebagai bentuk gurauan yang menjurus pada pelecehan mental. Saat itu, Vira menganggapnya sebagai kenakalan anak-anak biasa, namun kini ia menyadari bahwa itu adalah sinyal bahaya yang terlewatkan.

"Saya sih baru dengar-dengar dua kali ya, yang sandal itu disembunyikan. Terus nggak lama katanya sih begini," ungkap Vira dengan nada penuh penyesalan karena tidak menyadari lebih awal bahwa tindakan menyembunyikan sandal tersebut adalah awal dari pola perundungan yang lebih besar dan berujung pada kekerasan fisik fatal yang hampir merenggut nyawa anaknya.

Kini, setelah kasus ini ditangani oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat, penyelidikan mendalam terus dilakukan. Polisi menegaskan akan memproses kasus ini sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, khususnya dengan menerapkan Undang-Undang Perlindungan Anak. Meskipun para pelaku masih tergolong anak-anak atau remaja tanggung, tindakan tegas berupa penahanan terhadap salah satu pelaku utama dilakukan demi memberikan efek jera sekaligus menjamin rasa keadilan bagi korban dan keluarganya. Pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan dinas sosial setempat untuk memberikan pendampingan psikologis (trauma healing) bagi MWP guna memulihkan trauma batin pasca-kejadian mengerikan yang hampir merenggut masa depannya tersebut.