Kunjungi Banyuwangi, Raline Shah Puji Panorama Sunrise di Kawah Ijen.

Aktris papan atas sekaligus model internasional, Raline Shah, baru-baru ini melakukan perjalanan wisata yang sarat akan makna ke ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi. Selama empat hari, mulai dari tanggal 12 hingga 15 Juni 2026, bintang film "5 cm" tersebut memboyong keluarganya untuk mengeksplorasi kekayaan alam, kebudayaan lokal, serta potensi pariwisata yang dimiliki oleh daerah yang dijuluki The Sunrise of Java tersebut. Kehadiran Raline di Banyuwangi tidak hanya sekadar untuk berlibur melepaskan penat dari hiruk-pikuk ibu kota, melainkan juga untuk menjalankan misi penting dalam kapasitasnya sebagai Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital.
Perjalanan Raline dan keluarganya dimulai pada Jumat, 12 Juni 2026. Setibanya di Bandara Internasional Banyuwangi—yang terkenal dengan arsitektur hijau nan ramah lingkungan tanpa pendingin udara buatan—Raline langsung bergerak menuju destinasi pertama, yaitu Desa Wisata Adat Osing Kemiren. Desa ini terletak di Kecamatan Glagah dan merupakan benteng pertahanan terakhir kebudayaan Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi yang merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Blambangan. Di desa wisata ini, Raline disambut dengan kehangatan khas warga lokal, alunan musik tradisional Patrol, serta aroma harum kopi khas Kemiren yang disajikan melalui proses menyangrai tradisional menggunakan tungku tanah liat. Raline tampak sangat menikmati interaksi dengan para tetua adat, mempelajari sejarah arsitektur rumah adat Osing yang memiliki filosofi pembagian ruang unik seperti trowongan, srambyang, dan bale.
Setelah puas menyelami kearifan lokal di Kemiren, rombongan Raline melanjutkan perjalanan ke pusat pemerintahan Kabupaten Banyuwangi untuk mengunjungi Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Bangunan bersejarah ini berfungsi sebagai rumah dinas bupati sekaligus simbol keterbukaan masyarakat Banyuwangi. Yang menarik perhatian Raline adalah arsitektur pendopo yang sangat unik, di mana area hijau berbentuk bukit buatan menyelimuti bangunan utama, menciptakan sistem sirkulasi udara alami yang sejuk. Di bawah bukit buatan tersebut, terdapat ruang-ruang pertemuan dan penginapan yang dirancang secara estetis tanpa merusak bentang alam sekitarnya. Raline mengagumi bagaimana pemerintah daerah mampu mengintegrasikan nilai-nilai sejarah Blambangan dengan konsep arsitektur modern yang berkelanjutan.
Namun, puncak dari petualangan Raline di Banyuwangi terjadi pada dini hari berikutnya, ketika ia memutuskan untuk mendaki Gunung Ijen. Gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso ini memiliki ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan terkenal di seluruh penjuru dunia berkat fenomena alamnya yang sangat langka. Raline bersama keluarganya mulai melakukan pendakian tepat pada pukul 03.00 WIB dari pos Paltuding. Bersama dengan ratusan pendaki domestik maupun mancanegara, Raline menyusuri jalur pendakian sepanjang kurang lebih 3 kilometer yang memiliki kemiringan cukup menantang.
Meskipun suhu udara di puncak Ijen sangat dingin dan menusuk tulang, semangat Raline tidak surut. Sepanjang perjalanan naik, ia kerap berpapasan dengan para penambang belerang tradisional yang memikul beban puluhan kilogram belerang di pundak mereka—sebuah pemandangan humanis yang memberikan perspektif mendalam tentang perjuangan hidup masyarakat lokal. Setibanya di puncak Ijen, Raline langsung menuju area sunrise point untuk menantikan detik-detik munculnya sang surya.
Ketika matahari mulai terbit dari ufuk timur, langit di atas Kawah Ijen berubah warna menjadi gradasi jingga, merah muda, dan keunguan yang luar biasa indah. Cahaya pagi tersebut menyinari kawah asam terbesar di dunia yang berwarna hijau toska, menciptakan pemandangan magis yang sangat spektakuler. Dari ketinggian tersebut, kepulan asap belerang yang tertiup angin berpadu dengan siluet pegunungan di sekitarnya, menyajikan panorama alam yang tak tertandingi oleh destinasi mana pun di dunia.
"Luar biasa. Saya sekarang mengerti mengapa banyak orang dari berbagai negara datang ke Banyuwangi, salah satunya untuk melihat Ijen," ujar Raline Shah dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu, 13 Juni 2026. Keindahan kawah yang bersanding dengan fenomena api biru (blue fire) yang hanya ada dua di dunia—satu di Ijen dan satu lagi di Islandia—menjadikan tempat ini sebagai magnet pariwisata global yang wajib dilestarikan.
Kehadiran sosok figur publik sekelas Raline tentu menarik perhatian para pendaki lain yang juga sedang berada di puncak. Dengan keramahan yang menjadi ciri khasnya, Raline tidak segan-segan melayani permintaan foto bersama dari para penggemar dan sesama pelancong yang terkejut melihat kehadirannya di jalur pendakian. Raline baru memutuskan untuk turun kembali ke pos Paltuding sekitar pukul 07.00 WIB, setelah puas mengabadikan momen-momen indah bersama keluarganya berlatar belakang kawah vulkanik yang megah tersebut.
Bagi Raline, kunjungan perdananya ke daerah berjuluk The Sunrise of Java ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Ia menilai bahwa Banyuwangi tidak hanya sekadar menjual keindahan lanskap alam kelas dunia, tetapi juga berhasil mengemas sektor pariwisatanya dengan kekuatan identitas budaya yang orisinal dan terjaga dengan sangat baik. Sinergi antara keindahan alam dan kelestarian budaya inilah yang menurutnya menjadi kunci keberhasilan Banyuwangi bertransformasi dari daerah yang dulunya hanya menjadi tempat transit, kini menjadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia yang diakui secara internasional.
"Tidak hanya alamnya yang indah dan berkelas dunia, Banyuwangi juga memiliki seni budaya yang kuat dan terus terjaga," ungkap Raline dengan nada penuh kagum. Ia melihat bagaimana masyarakat lokal memiliki kebanggaan yang tinggi terhadap warisan leluhur mereka, mulai dari tarian Gandrung, festival budaya tahunan, hingga pelestarian hutan dan kawasan konservasi di sekitar Geopark Ijen yang kini telah resmi menyandang status sebagai UNESCO Global Geopark.
Kunjungan Raline ke Banyuwangi ini juga memiliki dimensi strategis yang lebih luas. Sebagai Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital, Raline memandang bahwa promosi pariwisata dan kebudayaan merupakan instrumen penting dalam menjalankan diplomasi digital dan memperkuat nation branding Indonesia di mata dunia. Di era modern saat ini, penyebaran informasi dan pengenalan potensi daerah tidak lagi terbatas pada jalur-jalur birokrasi konvensional, melainkan dapat diakselerasi secara masif melalui pemanfaatan teknologi informasi dan platform digital.
Menurut Raline, kekuatan industri kreatif, perfilman, seni, dan pariwisata yang didukung oleh infrastruktur digital yang mumpuni akan menjadi jembatan yang sangat efektif untuk menghubungkan Indonesia dengan komunitas global. Melalui konten-konten digital yang edukatif, estetik, dan informatif, keindahan tersembunyi seperti Kawah Ijen, kekayaan adat Suku Osing, serta keramahan masyarakat Indonesia dapat diakses oleh siapa saja, di mana saja, tanpa sekat geografis.
"Biar semua orang di penjuru dunia tahu kita siapa, tahu budaya kita, tahu alam kita," tegas Raline. Ia berkomitmen untuk terus menyuarakan potensi-potensi lokal Indonesia ke jejaring internasional yang dimilikinya, guna menarik minat investasi hijau, kolaborasi riset, serta kunjungan wisatawan berkualitas yang menghargai nilai-nilai keberlanjutan lingkungan.
Setelah menyelesaikan agenda wisatanya di Kawah Ijen, Raline Shah bersama keluarganya dijadwalkan untuk melanjutkan petualangan mereka ke beberapa destinasi unggulan lainnya di Banyuwangi. Di antaranya adalah Taman Nasional Baluran yang dijuluki sebagai Little Africa in Java karena memiliki sabana luas yang dihuni oleh satwa liar seperti banteng Jawa, rusa, dan merak; serta kawasan pantai eksotis Pulau Merah yang terkenal dengan ombaknya yang ideal bagi para peselancar dunia serta panorama matahari terbenam yang memukau. Kunjungan komprehensif ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh bagi Raline dalam merumuskan strategi edukasi digital dan kemitraan global yang lebih inklusif untuk kemajuan pariwisata nusantara.





