Prabowo ke Siswa: Saya Sering Diejek Sampai Sekarang, Balas dengan Santun

Prabowo ke Siswa: Saya Sering Diejek Sampai Sekarang, Balas dengan Santun

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan kerja yang sarat akan nilai-nilai moral dan edukasi karakter di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, pada Minggu (7/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, Kepala Negara menyambangi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Tabanan untuk meninjau fasilitas pendidikan sekaligus berdialog langsung dengan para siswa dan tenaga pendidik. Di hadapan ratusan siswa yang menyambutnya dengan antusias, Presiden Prabowo membagikan kisah hidup, refleksi pribadi, serta pesan mendalam tentang pentingnya keteguhan mental, kedisiplinan, dan sikap santun dalam menghadapi dinamika kehidupan, termasuk ketika berhadapan dengan perundungan atau ejekan.

Kunjungan ini dilakukan di tengah fokus pemerintah dalam memperkuat pilar pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global, sebagaimana tertuang dalam visi Astacita. Sekolah Rakyat sendiri merupakan salah satu inisiatif pendidikan inklusif yang dirancang untuk memberikan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Oleh karena itu, kehadiran Presiden di sekolah ini membawa pesan simbolis yang kuat mengenai keberpihakan negara terhadap masa depan anak-anak dari seluruh lapisan sosial.

Dalam pidato arahannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa kunci utama untuk meraih kesuksesan di masa depan bukanlah latar belakang ekonomi, melainkan karakter diri yang kokoh, kerja keras, dan kepatuhan terhadap nilai-nilai etika. Beliau meminta seluruh siswa-siswi Sekolah Rakyat untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah melupakan jasa orang-orang yang telah mendidik mereka.

"Siswa dan siswi belajar yang baik, belajar yang keras, belajar yang disiplin. Patuh sama guru ya, selalu cintai orang tuamu. Orang tuamu adalah bekerja keras untuk kamu. Apapun pekerjaannya adalah sangat mulia. Kamu harus nanti angkat derajat orang tuamu. Kamu adalah harapan orang tuamu," ujar Presiden Prabowo dengan nada suara yang tegas namun penuh kebapakan.

Lebih lanjut, Presiden menyoroti pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama manusia sebagai fondasi kehidupan yang harmonis. Menurutnya, kesuksesan lahir dari kedamaian sosial dan kerukunan, bukan dari permusuhan atau upaya saling menjatuhkan. Beliau mengingatkan para siswa agar menjauhi perilaku mencela atau membenci orang lain.

"Belajar, belajar, belajar yang baik. Hormati guru, cintai orang tua, selalu rukun sama kawan, selalu baik sama orang lain. Sopan santun. Jangan sekali-sekali menjelek-jelekkan orang. Jangan benci orang lain, itu hidup dengan baik. Rukun adalah kunci dari keberhasilan," tambah mantan Menteri Pertahanan tersebut.

Momen hangat dan emosional terjadi ketika Presiden Prabowo berinteraksi langsung dengan salah satu siswa bernama Gede Bagus. Siswa tersebut sempat berbagi cerita mengenai pengalamannya yang kerap menjadi sasaran ejekan oleh beberapa temannya. Mendengar keluh kesah tersebut, Presiden Prabowo tidak sekadar memberikan simpati, melainkan memberikan motivasi besar dengan merefleksikan pengalaman pribadinya sendiri.

Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa ejekan dan hinaan bukanlah hal yang asing bagi dirinya. Bahkan, setelah menduduki jabatan tertinggi sebagai Presiden Republik Indonesia, beliau mengaku masih sering menerima berbagai bentuk ejekan dan kritik yang tidak berdasar dari berbagai pihak.

"Terima kasih tadi siapa, Bagus ya? Gede Bagus, kamu dulu diejek, nggak apa-apa. Ya, nggak apa-apa diejek. Jangankan kamu, saya sering diejek sampai sekarang. Presiden pun sering diejek, nggak apa-apa," kata Prabowo yang langsung disambut tepuk tangan riuh dari para siswa dan guru yang hadir.

Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa ejekan dari luar tidak akan pernah bisa mendefinisikan nilai diri seseorang selama individu tersebut memiliki keyakinan dan integritas yang kuat. Presiden mengajarkan konsep ketahanan mental (mental resilience) yang sangat relevan dengan tantangan psikologis yang sering dihadapi oleh generasi muda saat ini, terutama di era digital di mana perundungan siber (cyberbullying) marak terjadi.

Prabowo kemudian memberikan formula moral dalam menghadapi kebencian, yaitu dengan membalasnya menggunakan kesopanan dan kebaikan. Konsep ini sejalan dengan nilai budaya luhur bangsa Indonesia yang mengedepankan adab dan tata krama dalam merespons konflik.

"Yang penting hatimu teguh, ya. Hati kita baik. Kalau kita diejek, kita balas dengan sopan santun. Semakin dihina, semakin kau teguh, semakin berani, semakin sopan," sambung Presiden Prabowo, menekankan bahwa kesopanan bukanlah tanda kelemahan, melainkan simbol kekuatan karakter yang hakiki.

Isu perundungan (bullying) memang menjadi perhatian serius pemerintah saat ini. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta berbagai lembaga perlindungan anak, kasus perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang besar di Indonesia. Dampak psikologis dari perundungan dapat menurunkan motivasi belajar, memicu depresi, hingga menghambat potensi tumbuh kembang anak. Melalui pesan langsungnya di Tabanan, Presiden Prabowo berupaya mengintervensi paradigma berpikir para siswa agar tidak membiarkan perundungan merusak masa depan mereka.

Presiden berharap agar tidak ada satu pun siswa di Indonesia yang merasa berkecil hati atau inferior karena kondisi ekonomi maupun perlakuan negatif dari lingkungan sekitar. Beliau mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat banyak tokoh besar dunia dan pemimpin bangsa yang lahir dari keprihatinan dan kemiskinan, namun berhasil mendobrak keterbatasan tersebut melalui determinasi yang tanpa batas.

"Dihina balas dengan sopan, ya jangan kecil hati. Terima kasih, kau nanti akan berhasil. Banyak orang yang berhasil datang dari keluarga yang sangat miskin, banyak sekali. Tapi anaknya tidak mau menyerah, anaknya tidak mau putus asa, anaknya selalu gembira di tengah kesulitan mencari yang baik. Pasti akan ada kebaikan yang datang, kita percaya itu," pungkas Presiden Prabowo mengakhiri sambutannya yang penuh inspirasi.

Pernyataan Presiden ini senada dengan komitmen pemerintah untuk terus memperluas program jaring pengaman sosial di bidang pendidikan, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, revitalisasi sekolah-sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta peningkatan kualitas kesejahteraan guru. Pemerintah meyakini bahwa dengan memberikan akses pendidikan yang merata dan memperkuat pendidikan karakter sejak dini, rantai kemiskinan struktural di Indonesia dapat diputus.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Sekolah Rakyat di Tabanan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa, khususnya Gede Bagus yang kini memiliki perspektif baru dalam memandang ejekan yang pernah diterimanya. Pesan dari Kepala Negara menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa pembangunan fisik dan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pembangunan jiwa dan karakter bangsa (character and nation building). Keteguhan hati, kesopanan di tengah badai kritik, serta semangat pantang menyerah adalah modal utama bagi generasi muda untuk membawa Indonesia menuju masa keemasan di masa depan.