Benda Dikira Mayat Bayi di Flyover Gegerkan Warga Depok, Ternyata Kucing Mati

Kesibukan sore hari di kawasan Beji, Kota Depok, mendadak berubah menjadi ketegangan yang mencekam pada Jumat, 5 Juni 2026. Sekitar pukul 15.30 WIB, arus lalu lintas di sekitar Flyover Arif Rahman Hakim yang biasanya padat oleh kendaraan komuter mendadak tersendat. Bukan karena kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan karena adanya kehebohan luar biasa dari warga setempat dan pengguna jalan yang mencurigai penemuan sebuah bungkusan misterius. Bungkusan tersebut tergeletak di area sekitar flyover dan dicurigai kuat berisi jasad seorang bayi yang baru lahir. Isu penemuan mayat bayi dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, memicu kepanikan sekaligus rasa penasaran di kalangan masyarakat yang melintas.
Flyover Arif Rahman Hakim merupakan salah satu jalur arteri paling vital di Kota Depok yang menghubungkan kawasan Margonda Raya dengan wilayah Nusantara dan Beji. Di bawah dan di sekitar struktur beton jembatan layang ini, aktivitas warga sangat tinggi, mulai dari pedagang kaki lima, pengemudi ojek daring, hingga pejalan kaki yang menyeberang menuju stasiun terdekat. Oleh karena itu, ketika salah seorang warga pertama kali melihat bungkusan mencurigakan yang tergeletak di sudut jalan dekat flyover, perhatian publik langsung tersedot sepenuhnya. Bungkusan tersebut dibungkus sedemikian rupa dengan kain, menyerupai ukuran dan bentuk tubuh seorang bayi mungil. Ketakutan akan adanya tindakan pembuangan bayi, yang sayangnya masih kerap terjadi di wilayah perkotaan, membuat warga tidak berani menyentuh atau membuka bungkusan tersebut secara langsung. Mereka memilih untuk melaporkan temuan mengerikan itu kepada pihak berwenang.
Merespons kepanikan warga yang mulai memuncak, salah seorang warga yang berada di lokasi berinisiatif menghubungi layanan darurat kepolisian melalui call center 110. Layanan terintegrasi ini segera meneruskan laporan darurat mengenai dugaan penemuan mayat bayi tersebut ke Kepolisian Sektor (Polsek) Beji. Menerima laporan yang sangat sensitif dan memerlukan penanganan cepat ini, jajaran Unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Beji langsung bergerak. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Ahmad Lailatul, segera memimpin anggotanya menuju tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan tindakan pengamanan awal dan verifikasi lapangan.
Setibanya di lokasi kejadian, petugas kepolisian langsung dihadapkan pada kerumunan massa yang menyemut di sekitar area penemuan bungkusan. Polisi segera memasang garis pengaman guna menjaga status quo TKP agar tidak rusak oleh warga yang penasaran. Mengingat bungkusan tersebut dilaporkan sebagai diduga jasad manusia, kepolisian menerapkan prosedur standar operasional (SOP) penanganan penemuan mayat secara ketat. Petugas tidak langsung membuka bungkusan tersebut di lokasi demi menjaga sterilitas bukti-bukti fisik dan menghindari paparan yang tidak diinginkan kepada masyarakat umum yang sedang berkumpul. Langkah taktis pertama yang diambil adalah berkoordinasi dengan tim medis dan memanggil mobil ambulans untuk mengevakuasi bungkusan tersebut ke fasilitas medis yang memadai.
Proses evakuasi berlangsung dengan cepat namun penuh kehati-hatian. Petugas medis yang tiba dengan mobil ambulans segera mengangkat bungkusan misterius itu dan memasukkannya ke dalam kendaraan. Berdasarkan keputusan penyidik, bungkusan yang diduga berisi mayat bayi tersebut langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob yang berlokasi di Kelapa Dua, Depok. Rumah sakit milik Korps Brimob Polri ini dipilih karena memiliki fasilitas forensik yang lengkap serta tenaga medis ahli yang kompeten untuk melakukan identifikasi awal terhadap jasad manusia, guna memastikan penyebab kematian serta mencari petunjuk identitas korban jika bungkusan tersebut benar-benar berisi bayi.
Perjalanan ambulans dari Flyover Arif Rahman Hakim menuju RS Bhayangkara Brimob diiringi oleh rasa cemas dan ketegangan dari pihak kepolisian yang mengawal. Kasus pembuangan bayi selalu menjadi perhatian serius bagi aparat penegak hukum karena melibatkan hilangnya nyawa manusia yang paling rentan dan sering kali berkaitan dengan tindak pidana lainnya. Sesampainya di instalasi kedokteran forensik RS Bhayangkara Brimob, tim dokter forensik yang telah bersiaga segera menerima bungkusan tersebut. Di dalam ruang pemeriksaan yang steril dan tertutup, proses pembongkaran bungkusan yang mendebarkan itu pun dimulai. Dengan disaksikan oleh petugas kepolisian dari Polsek Beji, tim forensik membuka lembar demi lembar kain yang membungkus objek misterius tersebut.
Namun, ketegangan yang sempat menyelimuti ruang forensik dan benak para petugas kepolisian seketika mencair saat bungkusan tersebut terbuka sepenuhnya. Hasil pemeriksaan fisik secara menyeluruh oleh tim forensik menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan sekaligus melegakan. Objek di dalam bungkusan tersebut sama sekali bukan jasad bayi manusia, melainkan bangkai dari seekor kucing peliharaan. Tim dokter forensik mengonfirmasi bahwa struktur anatomi dari objek tersebut memiliki ekor yang khas, yang langsung menggugurkan segala kecurigaan awal mengenai adanya korban pembunuhan atau pembuangan bayi manusia di wilayah Beji.
Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Ahmad Lailatul, memberikan penjelasan mendalam mengenai kronologi pembongkaran misteri ini kepada awak media pada hari Minggu, 7 Juni. "Sesampainya di sana kita bawa, telepon ambulans terus untuk dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob Kelapa Dua," ujar Iptu Ahmad menerangkan langkah awal yang diambil jajarannya saat menghadapi situasi genting tersebut. Beliau melanjutkan bahwa setelah objek tersebut diserahkan kepada ahlinya, kebenaran akhirnya terungkap dengan jelas. "Setelah sampai di sana ternyata hasil dari forensik, tim forensik itu bukan manusia, ternyata seekor kucing yang mempunyai buntut," tambahnya. Guna meredakan keresahan dan spekulasi liar yang terlanjur berkembang luas di tengah masyarakat Depok, pihak kepolisian segera mengambil langkah cepat untuk memberikan klarifikasi resmi. "Nah, kemudian kita klarifikasi kepada media bahwa di sini, bukan manusia melainkan seekor diduga kucing," tutup Iptu Ahmad Lailatul mengakhiri penjelasannya.
Peristiwa salah sangka ini sebenarnya bukan hal baru dalam dinamika sosial masyarakat urban di Indonesia. Ada alasan sosiologis dan budaya yang kuat mengapa seekor kucing mati bisa dibungkus sedemikian rupa sehingga menyerupai jasad bayi manusia. Di kalangan masyarakat Indonesia, terdapat mitos dan kepercayaan lokal yang sangat kuat mengenai hewan kucing. Banyak orang percaya bahwa menabrak atau membiarkan kucing mati terlantar di jalan tanpa dikuburkan dengan layak dapat mendatangkan kesialan atau nasib buruk bagi yang melihat atau menyebabkannya. Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan umum bagi warga untuk membungkus bangkai kucing yang mereka temukan di jalan dengan kain bekas, pakaian layak pakai, atau bahkan kain putih menyerupai kafan, sebelum akhirnya menguburkannya. Dalam kasus di Flyover Arif Rahman Hakim ini, kemungkinan besar ada warga yang berniat baik membungkus bangkai kucing tersebut namun belum sempat menguburkannya secara layak, atau meletakkannya di tepi jalan dengan harapan ada petugas kebersihan yang akan memakamkannya, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut dapat memicu kepanikan massal.
Selain faktor budaya, fenomena psikologis yang dikenal sebagai pareidolia juga berperan penting dalam kejadian ini. Pareidolia adalah kecenderungan pikiran manusia untuk mengenali pola, bentuk, atau wajah yang familier pada objek-objek acak. Ketika masyarakat dihadapkan pada sebuah bungkusan kain berukuran kecil yang tergeletak di tempat umum, memori kolektif mengenai berita-berita kriminal tentang pembuangan bayi langsung aktif. Hal ini memicu persepsi visual bahwa bungkusan tersebut adalah jasad bayi, bahkan sebelum bungkusan itu dibuka dan diperiksa secara objektif. Meskipun insiden ini berakhir sebagai alarm palsu, pihak kepolisian tetap memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga Depok yang bersikap proaktif. Kepedulian warga untuk segera melapor melalui jalur resmi call center 110 menunjukkan bahwa fungsi pengawasan komunitas berjalan dengan sangat baik, yang sangat membantu tugas kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Depok.





